Kamis, 28 November 2019

KEGIATAN PANCA USAHA TANI BUDIDAYA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT




v  Tahap Pemilihan Bibit Kelapa Sawit Unggul







Ciri-ciri bibit kelapa sawit pre nusery yang unggul adalah:
  1. Jumlah daunnya 3-4 helai. Jika jumlah daun kelapa sawitnya lebih atau kurang dari itu maka jangan dipilih.
  2. Pertumbuhan kelapa sawitnya normal. Tidak mengalami penghambatan dalam faktor pertumbuhan sawitnya.
  3. Bebas dari benih-benih abnormal.
  4. Tidak terserang hama penyakit sawit.
Ciri-ciri bibit-bibit main nursery (10-12 bulan) adalah:
  1. Pelepah lebih terbuka. Jika tidak terbuka maka dipastikan benih sawit Anda tidaklah yang terbaik.
  2. Bebas bibit abnormal.
  3. Standar pertumbuhan bibit sawit pada usia 10 bulan tingginya 110 cm dengan diameter 6.5 cm. Sementara pada usia 12 bulan tingginya 130 cm dengan diameter 6.8 cm dan memiliki pelepah berjumlah 17.
v  Tahap Pengolahan Lahan
A.    Pembukaan Lahan
·                     Surfei lapangan
1.            Menentukan klasifikasi hutan primer, sekunder, dan atau tersier.
2.            Menggambar topografi lahan (datar, bergelombang, atau berbukit).
3.            Menggambar letak sungai, rawa, kampung, dan lainnya.
4.            Membuat jalan rintisan untuk pengukuran.
5.            Memeriksa tempat sumber air dan mengambil contoh tanah.
6.            Membuat peta orientasi dan membuat petak-petak hektaran (blok).
7.            Membuat lorong-lorong (peta blok kebun) dari patok batas areal.
·                     Menebas pohon berdiameter kurang dari 3 inch
Pohon-pohon yang berdiameter kurang dari 3 inci (7,5 cm), termasuk semak di tebas, dan tanaman merambat di cincang. Tinggi tebasan harus rata degnan permukaan tanah. Pekerjaan ini sebaiknya dilakukan dari areal yang rendah kea rah yang lebih tinggi.
·                      Menebang pohon berdiameter lebih dari 3 inch
Penebangan pohon berdiameter lebih dari 3 inci dilakukan oleh tenaga manusia menggunakan chainsaw. Tinggi tebangan dari atas tanah harus di ukur berdasarkan diameter pohon seperti berikut:
1.            Diameter 3-10 inci, tinggi tebangan maksimal 30 cm.
2.            Diameter 10-12 inci, tinggi tebangan maksimum 60 cm.
3.            Diameter 13-30 inci, tinggi tebangan maksimum 90 cm.
4.             Diameter lebih dari 31 inci, tinggi tebangan maksimum 150 inci.
Jika penebangan dilakukan secara mekanis, seluruh pohon dapat di tumbangkan dengan traktor.
Batang pohon yang sudah di tebang, dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil dan di tumpuk agar lebih mudah kering. Untuk rencana peremajaan, semua dahan dan ranting dari pohon yang sudah di tebang, di potong sepanjang 5 meter, lalu di tumpuk menurut barisan yang teratur. Tanggul atau sisa pohon bekas penebangan liar yang letaknya bertepatan dengan lubang tanaman harus di bongkar.
 
B.    Pengolahan Tanah
Mengolah tanah dilakukan dengan cara membersihkan lahan dari gulma dan menyiapkan tanah menjadi media yang cocok untuk perakaran dan mendukung pertumbuhan tanaman kelapa sawit.
Mengolah tanah untuk menanam kelapa sawit lebih di anjurkan menggunakan traktor (jika lahan yang diolah cukup luas). Jika mengolah tanah menggunakan traktor, antara dua rotasi yang berurutan berupa pembajakan dan penggarukan, arahnya harus tegak lurus atau paling tidak sedikit menyilang. Sementara itu, interval antara rotasi minimum dilakukan dalam dua minggu.
C.    Pembuatan Jalan, Parit, dan Teras
·                     Pembuatan jalan
Kegiatan yang termasuk dalam pekerjaan ini diantaranya mengorek, menimbun, mengeraskan bagian lapangan, membuat bentang, dan membuat parit di sebelah kiri-kanan jalan. Berikut ini jenis jalan beserta ukurannya.
1.            Jalan utama (main road) merupakan jalan induk yang menghubungkan afdeling yang satu dengan yang lainnya, dan dengan pabrik. Lebar jalan utama 8 meter.
2.            Jalan traspor, submain road, jalan primer, jalan afdeling atau jalan produksi yang menghubungkan jalan utama dengan jalan koleksi. Lebar jalan traspo 6 meter.
3.            Jalan koleksi (colleting road) atau jalan sekunder (jalan tengah) merupakan jalan yang terletak di dalam blok-blok penanaman yang berfungsi sebagai tempat pengumpulan hasil atau produksi kebun. Lebar jalannya 4 meter.
4.            Jalan control atau jalan tersier merupakan jalan di dalam kebun yang berfungsi sebagai sarana mengontrol kegiatan di kebun. Lebar jalannya 2-3 meter.
Jalan utama dan jalan produksi dibuat dengan bulldozer dan atau grader. Jalan sepanjang 1 km dibuat dalam waktu 40-80 jam kerja dengan pemakaian bahan bakar 80 liter/jam kerja. Selanjutnya, jalan di padatkan dengan menggunakan alat pemadat (bomag). Pekerjaan ini umumnya dilakukan pada akhir musim hujan.

·                     Pembuatan parit (saluran air)
Parit drainase merupakan saluran yang menghubungkan lembah bukit yang satu dengan yang lainnya agar air dapat dialirkan menuju aerah bawah dan akhir nya masuk ke saluran pembuangan. Pembuatan parit dikerjakan dengan menggali tanah sesuai ukuran dasar. Tanah galiannya di buang ke tempat tertentu.
Saluran air di daerah berbukit berupa saluran kebun dan saluran utama yang menyalurkan air ke saluran drainase alam (sungai). Saluran kebun di buat setiap 16 baris tanaman kelapa sawit dan di buat menurut kontur lahan. Saluran utama di buat dengan lebar bagian atas 150 cm, lebar bagian bawah 80 cm. saluran kebun di buat dengan lebar bagian atas 90 cm, lebar bagian bawah 60 cm, dan kedalaman 60 cm.
·                      Pembuatan teras
Berdasarkan derajat kemiringan lahan dikenal teras kontur (bersambung) dan teras individu (tapak kuda). Teras bersambung untuk laham memiliki kemiringan 4-29o dan teras individu 30-40o.
Teras individu di buat menggunakan mal berbentuk tapak kuda dengan muka teras menhadap kearah lereng bukit. Ukuran teras 3 m x 3 m, jarak antara ajir tanaman dan tepi muka teras selebar 1,25 m.
Pembuatan teras dikerjakan dengan menggali dan menimbun tanah lereng, sehingga tempat tersebutmenjadi rata dan agak datar. Teras individu dibuat menurut kemiringan lahan. Contohnya, pada tingkat kemiringan 15o,  jari-jari teras bias dibuat 1,5 – 2 m.

v  Tahap Pemupukkan
Pemupukan kelapa sawit yang baik dan benar harus sesuai dengan 5 T yaitu :
1. Tepat Jenis
Jenis pupuk buah sawit yang diaplikasikan harus sesuai dengan kebutuhan tanaman, baik itu jenis dan kandungan unsur haranya.

2. Tepat Dosis
Dosis atau takaran pupuk sawit yang diaplikasikan harus sesuai jumlahnya dengan kebutuhan tanaman sawit.

3. Tepat Waktu
Pupuk buah sawit yang diberikan harus sesuai dengan waktu atau fase pertumbuhan tanaman (vegetatif atau generatif) dan musim yang ada karena erat kaitannya dengan ketersediaan air di kebun.

4. Tepat Cara Aplikasi
Pupuk sawit dapat diaplikasikan sesuai dengan jenis, bentuk dan metode pemupukan kelapa sawit, agar efisien di waktu, biaya dan tenaga kerja.

5. Tepat Sasaran
Apabila aplikasi pupuknya di tanah, maka sasaran penebaran/penyemprotannya adalah diujung terluar dari piringan. Apabila aplikasinya adalah penyemprotan pada daun, maka sasarannya adalah bagian bawah daun karena jumlah stomatanya lebih banyak sehingga lebih cepat diserap tanaman atau pada ketiak daun jika aplikasi pupuk mikro.


Teknik Pemupukan Kelapa Sawit Dengan Pupuk Organik Cair GDM Pada Budidaya Kelapa Sawit:


1. Sesuaikan pupuk sawit dengan luasan lahan yang anda miliki. Pada Pupuk Organik Cair GDM, menyarankan populasi sawit per hektar sekitar 140 pokok tanaman sawit.

2. Cara pemakaian pupuk sawit  GDM dapat dilakukan dengan teknik dikocor atau disemprotkan, sesuai kebutuhan:
·         Pada tanah subur dan tanaman yang sehat:
Teknik Dikocor: 20 ml Pupuk Organik Cair GDM diampurkan dengan 1 L air (1:50).
Teknik Disemprot: 40 ml Pupuk Organik Cair GDM dicampurkan dengan 1 L air (1:25).

·         Pada tanah kurang subur atau tanaman sehat, dapat menggunakan konsentrasi yang lebih pekat:
Teknik Dikocor: 50 ml GDM dicampur dengan 1 L air (1:20).
Teknik Disemprot: 100 ml dicampur dengan 1 L air (1:10)

Dosis dan waktu penggunaan dapat disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman kelapa sawit anda, seperti pada tabel berikut:

v  Tahap Pengendalian Hama dan Penyakit

1.    Hama Ulat

Bukan sembarang ulat, biasanya ulat yang terdapat pada perkebunan tanaman ini ialah ulat api. Dari namanya saja sudah menyeramkan ya? Ulat api sendiri banyak terdapat pada daun tumbuhan ini. Dalam intensitas rendah, penanganannya cukup dengan diambil secara manual (handpicking). Pada tingkat lanjut, jika penyebaran hama meluas, pengendalian dilakukan dengan penyemprotan pestisida. Perlu diingat ya bahwa penyemprotan pestisida sendiri dilakukan berdasarkan survei sehingga penggunaan zat kimia pada pestisida sendiri tidak menjadi momok bagi tanaman sawit kita.

2.    Hama Kumbang

Hewan perusak ini merupakan gangguan yang paling banyak kita temui pada perkebunan sawit. Jenis kumbangnya biasanya kumbang bertanduk. Kumbang tanduk ini memiliki siklus hidup yang relatif lama sehingga kemungkinan bertambahnya populasi kumbang ini berakibat pada menurunnya produktivitas sawit. Pengendalian yang benar dapat menekan laju populasi kumbang tanduk ini. Sama seperti mengendalikan ulat api, perlu perhitungan matang agar penggunaan insektisida/pestisida dapat mengurangi kerusakan lingkungan. Kunci keberhasilan penanganannya bergantung pada tim penanggulangan hama.

3.    Hama Tikus

Sepertinya hewan yang satu ini memang menjadi gangguan dimanapun ya. Baik di persawahan maupun di perkebunan. Hewan yang satu ini menyerang sawit pada masa pembibitan. Bayangkan berapa banyak kerugian jika semua bibit sawit kita dihabiskan oleh si pengerat ini. Adanya tikus disebabkan salah satunya oleh sistem sanitasi yang tidak baik pada perkebunan. Seperti yang dilakukan PT Propadu Konair Tarahubun (Plantation Key Technology/PKT), pada survei lapangan dapat dibuat sanitasi yang baik dengan menemukan sarang tempat persembunyian dan membersihkankannya dari tumpukan sampah yang ada. Di sisi lain, penyemprotan pestisida dilakukan dengan menyesuaikan luas lahan serta intensitas hama itu sendiri.

4.    Busuk Pangkal Batang

Biasanya penyakit ini disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense. Kurangnya pengetahuan petani tentang penyakit ini menyebabkan kerugian dengan jumlah yang tidak sedikit. Hal ini bisa ditangani dengan memberikan bimbingan pada petani dimulai dari proses pemupukan. Pemilihan pupuk tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Sistem yang diterapkan oleh PKT sendiri selalu mengedepankan kebutuhan dari setiap tanaman. Dengan mengetahui kondisi pH tanah dan akar tanaman, aplikasi pupuk untuk tingkat lanjut bisa dilaksanakan.

5.    Daun Menguning

Ditandai dengan menguningnya daun hingga berubah menjadi kecoklat-coklatan dan mengering. Kalau daun sawit mulai menguning, itu tandanya virus yang bernama potyvirus ini mulai menyerang. Jika tidak ditangani dengan baik, lama-kelamaan daun akan layu dan kemungkinan panen tidak maksimal. Kenali tandanya agar penanganannya bisa dilakukan.

6.    Cincin Merah

Bukan cincin sembarangan nih. Biasanya lebih dikenal dengan red ring disease dan merupakan ancaman paling berbahaya bagi sawit. Gejalanya bisa dilihat dari daun yang tumbuh mengecil, juga terdapat bercak-bercak kuning sampai jingga di petiol dan daun tombak. Dinamakan seperti itu karena biasanya pola cincin merah akan muncul pada batang meski tidak selalu. Maka dari itu, kumbang tanduk itu perlu ditangani karena hewan Bursaphelenchus
cocophilus ini ternyata hewan perantara penularan nematoda, penyebab penyakit cincin merah.
v  Tahap Irigasi atau Pengairan

v  Tahap Irigasi atau Pengairan
Metode Irigasi
Beberapa sistem irigasi telah digunakan di perkebunan kelapa sawit, misalnya system sprinkler, drip (tetes), dan contour furrow (kontur terbuka) yang telah diterapkan di Thailand. Di Malaysia, surface irrigation (irigasi permukaan) dengan flooding (penggenangan) atalu blocking drains untuk menjaga muka air tanah juga telah digunakan. Percobaan sub irrigation telah dilakukan pada sebuah percobaan lapangan di Venezuela, namun tidak menunjukkan hasil yang memuaskan.

Artikel Tentang Tembakau

KEGIATAN PANCA USAHA TANI BUDIDAYA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

v   Tahap Pemilihan Bibit Kelapa Sawit Unggul Ciri-ciri bibit kelapa sawit  pre nusery  yang unggul adalah: Ju...