v Tahap Pemilihan Bibit Kelapa Sawit Unggul
|
Ciri-ciri bibit kelapa sawit pre
nusery yang unggul adalah:
- Jumlah daunnya 3-4 helai. Jika
jumlah daun kelapa sawitnya lebih atau kurang dari itu maka jangan
dipilih.
- Pertumbuhan kelapa sawitnya
normal. Tidak mengalami penghambatan dalam faktor pertumbuhan sawitnya.
- Bebas dari benih-benih
abnormal.
- Tidak terserang hama penyakit
sawit.
Ciri-ciri bibit-bibit main nursery (10-12
bulan) adalah:
- Pelepah lebih terbuka. Jika
tidak terbuka maka dipastikan benih sawit Anda tidaklah yang terbaik.
- Bebas bibit abnormal.
- Standar pertumbuhan bibit sawit
pada usia 10 bulan tingginya 110 cm dengan diameter 6.5 cm. Sementara pada
usia 12 bulan tingginya 130 cm dengan diameter 6.8 cm dan memiliki pelepah
berjumlah 17.
v Tahap Pengolahan Lahan
A.
Pembukaan Lahan
·
Surfei lapangan
1.
Menentukan klasifikasi
hutan primer, sekunder, dan atau tersier.
2.
Menggambar topografi
lahan (datar, bergelombang, atau berbukit).
3.
Menggambar letak
sungai, rawa, kampung, dan lainnya.
4.
Membuat jalan rintisan
untuk pengukuran.
5.
Memeriksa tempat
sumber air dan mengambil contoh tanah.
6.
Membuat peta orientasi
dan membuat petak-petak hektaran (blok).
7.
Membuat lorong-lorong
(peta blok kebun) dari patok batas areal.
·
Menebas pohon
berdiameter kurang dari 3 inch
Pohon-pohon yang
berdiameter kurang dari 3 inci (7,5 cm), termasuk semak di tebas, dan tanaman
merambat di cincang. Tinggi tebasan harus rata degnan permukaan tanah.
Pekerjaan ini sebaiknya dilakukan dari areal yang rendah kea rah yang lebih
tinggi.
·
Menebang pohon
berdiameter lebih dari 3 inch
Penebangan pohon
berdiameter lebih dari 3 inci dilakukan oleh tenaga manusia menggunakan
chainsaw. Tinggi tebangan dari atas tanah harus di ukur berdasarkan diameter
pohon seperti berikut:
1.
Diameter 3-10 inci,
tinggi tebangan maksimal 30 cm.
2.
Diameter 10-12 inci,
tinggi tebangan maksimum 60 cm.
3.
Diameter 13-30 inci,
tinggi tebangan maksimum 90 cm.
4.
Diameter lebih
dari 31 inci, tinggi tebangan maksimum 150 inci.
Jika penebangan dilakukan secara mekanis, seluruh pohon dapat di
tumbangkan dengan traktor.
Batang pohon yang
sudah di tebang, dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil dan di tumpuk agar
lebih mudah kering. Untuk rencana peremajaan, semua dahan dan ranting dari
pohon yang sudah di tebang, di potong sepanjang 5 meter, lalu di tumpuk menurut
barisan yang teratur. Tanggul atau sisa pohon bekas penebangan liar yang
letaknya bertepatan dengan lubang tanaman harus di bongkar.
B.
Pengolahan Tanah
Mengolah tanah
dilakukan dengan cara membersihkan lahan dari gulma dan menyiapkan tanah
menjadi media yang cocok untuk perakaran dan mendukung pertumbuhan tanaman
kelapa sawit.
Mengolah tanah untuk
menanam kelapa sawit lebih di anjurkan menggunakan traktor (jika lahan yang
diolah cukup luas). Jika mengolah tanah menggunakan traktor, antara dua rotasi
yang berurutan berupa pembajakan dan penggarukan, arahnya harus tegak lurus
atau paling tidak sedikit menyilang. Sementara itu, interval antara rotasi
minimum dilakukan dalam dua minggu.
C.
Pembuatan Jalan, Parit, dan Teras
·
Pembuatan jalan
Kegiatan yang termasuk
dalam pekerjaan ini diantaranya mengorek, menimbun, mengeraskan bagian
lapangan, membuat bentang, dan membuat parit di sebelah kiri-kanan jalan.
Berikut ini jenis jalan beserta ukurannya.
1.
Jalan utama (main
road) merupakan jalan induk yang menghubungkan afdeling yang satu dengan yang
lainnya, dan dengan pabrik. Lebar jalan utama 8 meter.
2.
Jalan traspor, submain
road, jalan primer, jalan afdeling atau jalan produksi yang menghubungkan jalan
utama dengan jalan koleksi. Lebar jalan traspo 6 meter.
3.
Jalan koleksi
(colleting road) atau jalan sekunder (jalan tengah) merupakan jalan yang
terletak di dalam blok-blok penanaman yang berfungsi sebagai tempat pengumpulan
hasil atau produksi kebun. Lebar jalannya 4 meter.
4.
Jalan control atau
jalan tersier merupakan jalan di dalam kebun yang berfungsi sebagai sarana
mengontrol kegiatan di kebun. Lebar jalannya 2-3 meter.
Jalan utama dan jalan
produksi dibuat dengan bulldozer dan atau grader. Jalan sepanjang 1 km dibuat
dalam waktu 40-80 jam kerja dengan pemakaian bahan bakar 80 liter/jam kerja.
Selanjutnya, jalan di padatkan dengan menggunakan alat pemadat (bomag).
Pekerjaan ini umumnya dilakukan pada akhir musim hujan.
·
Pembuatan parit
(saluran air)
Parit drainase
merupakan saluran yang menghubungkan lembah bukit yang satu dengan yang lainnya
agar air dapat dialirkan menuju aerah bawah dan akhir nya masuk ke saluran
pembuangan. Pembuatan parit dikerjakan dengan menggali tanah sesuai ukuran
dasar. Tanah galiannya di buang ke tempat tertentu.
Saluran air di daerah
berbukit berupa saluran kebun dan saluran utama yang menyalurkan air ke saluran
drainase alam (sungai). Saluran kebun di buat setiap 16 baris tanaman kelapa
sawit dan di buat menurut kontur lahan. Saluran utama di buat dengan lebar
bagian atas 150 cm, lebar bagian bawah 80 cm. saluran kebun di buat dengan
lebar bagian atas 90 cm, lebar bagian bawah 60 cm, dan kedalaman 60 cm.
·
Pembuatan teras
Berdasarkan derajat
kemiringan lahan dikenal teras kontur (bersambung) dan teras individu (tapak
kuda). Teras bersambung untuk laham memiliki kemiringan 4-29o dan teras
individu 30-40o.
Teras individu di buat
menggunakan mal berbentuk tapak kuda dengan muka teras menhadap kearah lereng
bukit. Ukuran teras 3 m x 3 m, jarak antara ajir tanaman dan tepi muka teras
selebar 1,25 m.
Pembuatan teras
dikerjakan dengan menggali dan menimbun tanah lereng, sehingga tempat
tersebutmenjadi rata dan agak datar. Teras individu dibuat menurut kemiringan
lahan. Contohnya, pada tingkat kemiringan 15o, jari-jari teras bias
dibuat 1,5 – 2 m.
v Tahap Pemupukkan
Pemupukan
kelapa sawit yang baik dan benar harus sesuai dengan 5 T yaitu :
1.
Tepat Jenis
Jenis
pupuk buah sawit yang diaplikasikan harus sesuai dengan kebutuhan tanaman, baik
itu jenis dan kandungan unsur haranya.
2.
Tepat Dosis
Dosis
atau takaran pupuk sawit yang diaplikasikan harus sesuai jumlahnya dengan
kebutuhan tanaman sawit.
3.
Tepat Waktu
Pupuk
buah sawit yang diberikan harus sesuai dengan waktu atau fase pertumbuhan
tanaman (vegetatif atau generatif) dan musim yang ada karena erat kaitannya
dengan ketersediaan air di kebun.
4.
Tepat Cara Aplikasi
Pupuk
sawit dapat diaplikasikan sesuai dengan jenis, bentuk dan metode pemupukan
kelapa sawit, agar efisien di waktu, biaya dan tenaga kerja.
5.
Tepat Sasaran
Apabila
aplikasi pupuknya di tanah, maka sasaran penebaran/penyemprotannya adalah
diujung terluar dari piringan. Apabila aplikasinya adalah penyemprotan pada
daun, maka sasarannya adalah bagian bawah daun karena jumlah stomatanya lebih
banyak sehingga lebih cepat diserap tanaman atau pada ketiak daun jika aplikasi
pupuk mikro.
Teknik Pemupukan Kelapa
Sawit Dengan Pupuk Organik Cair GDM Pada Budidaya Kelapa Sawit:
1. Sesuaikan pupuk sawit dengan luasan lahan
yang anda miliki. Pada Pupuk Organik Cair GDM, menyarankan populasi sawit per
hektar sekitar 140 pokok tanaman sawit.
2. Cara pemakaian pupuk sawit GDM dapat
dilakukan dengan teknik dikocor atau disemprotkan, sesuai kebutuhan:
·
Pada
tanah subur dan tanaman yang sehat:
Teknik Dikocor: 20 ml Pupuk Organik Cair GDM diampurkan dengan 1 L air (1:50).
Teknik Disemprot: 40 ml Pupuk Organik Cair GDM dicampurkan dengan 1 L air (1:25).
Teknik Dikocor: 20 ml Pupuk Organik Cair GDM diampurkan dengan 1 L air (1:50).
Teknik Disemprot: 40 ml Pupuk Organik Cair GDM dicampurkan dengan 1 L air (1:25).
·
Pada
tanah kurang subur atau tanaman sehat, dapat menggunakan konsentrasi yang lebih
pekat:
Teknik Dikocor: 50 ml GDM dicampur dengan 1 L air (1:20).
Teknik Disemprot: 100 ml dicampur dengan 1 L air (1:10)
Teknik Dikocor: 50 ml GDM dicampur dengan 1 L air (1:20).
Teknik Disemprot: 100 ml dicampur dengan 1 L air (1:10)
Dosis dan waktu penggunaan
dapat disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman kelapa sawit anda, seperti
pada tabel berikut:
v
Tahap
Pengendalian Hama dan Penyakit
1. Hama Ulat
Bukan
sembarang ulat, biasanya ulat yang terdapat pada perkebunan tanaman ini ialah
ulat api. Dari namanya saja sudah menyeramkan ya? Ulat api sendiri banyak
terdapat pada daun tumbuhan ini. Dalam intensitas rendah, penanganannya cukup
dengan diambil secara manual (handpicking). Pada tingkat lanjut, jika
penyebaran hama meluas, pengendalian dilakukan dengan penyemprotan pestisida.
Perlu diingat ya bahwa penyemprotan pestisida sendiri dilakukan berdasarkan
survei sehingga penggunaan zat kimia pada pestisida sendiri tidak menjadi momok
bagi tanaman sawit kita.
2. Hama Kumbang
Hewan
perusak ini merupakan gangguan yang paling banyak kita temui pada perkebunan
sawit. Jenis kumbangnya biasanya kumbang bertanduk. Kumbang tanduk ini memiliki
siklus hidup yang relatif lama sehingga kemungkinan bertambahnya populasi
kumbang ini berakibat pada menurunnya produktivitas sawit. Pengendalian yang
benar dapat menekan laju populasi kumbang tanduk ini. Sama seperti
mengendalikan ulat api, perlu perhitungan matang agar penggunaan
insektisida/pestisida dapat mengurangi kerusakan lingkungan. Kunci keberhasilan
penanganannya bergantung pada tim penanggulangan hama.
3. Hama Tikus
Sepertinya
hewan yang satu ini memang menjadi gangguan dimanapun ya. Baik di persawahan
maupun di perkebunan. Hewan yang satu ini menyerang sawit pada masa pembibitan.
Bayangkan berapa banyak kerugian jika semua bibit sawit kita dihabiskan oleh si
pengerat ini. Adanya tikus disebabkan salah satunya oleh sistem sanitasi yang
tidak baik pada perkebunan. Seperti yang dilakukan PT Propadu Konair Tarahubun
(Plantation Key Technology/PKT), pada survei lapangan dapat dibuat sanitasi
yang baik dengan menemukan sarang tempat persembunyian dan membersihkankannya
dari tumpukan sampah yang ada. Di sisi lain, penyemprotan pestisida dilakukan
dengan menyesuaikan luas lahan serta intensitas hama itu sendiri.
4. Busuk Pangkal Batang
Biasanya
penyakit ini disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense. Kurangnya pengetahuan
petani tentang penyakit ini menyebabkan kerugian dengan jumlah yang tidak
sedikit. Hal ini bisa ditangani dengan memberikan bimbingan pada petani dimulai
dari proses pemupukan. Pemilihan pupuk tidak bisa dilakukan dengan sembarangan.
Sistem yang diterapkan oleh PKT sendiri selalu mengedepankan kebutuhan dari
setiap tanaman. Dengan mengetahui kondisi pH tanah dan akar tanaman, aplikasi
pupuk untuk tingkat lanjut bisa dilaksanakan.
5. Daun Menguning
Ditandai
dengan menguningnya daun hingga berubah menjadi kecoklat-coklatan dan
mengering. Kalau daun sawit mulai menguning, itu tandanya virus yang bernama
potyvirus ini mulai menyerang. Jika tidak ditangani dengan baik, lama-kelamaan
daun akan layu dan kemungkinan panen tidak maksimal. Kenali tandanya agar
penanganannya bisa dilakukan.
6. Cincin Merah
Bukan
cincin sembarangan nih. Biasanya lebih dikenal dengan red ring disease dan
merupakan ancaman paling berbahaya bagi sawit. Gejalanya bisa dilihat dari daun
yang tumbuh mengecil, juga terdapat bercak-bercak kuning sampai jingga di
petiol dan daun tombak. Dinamakan seperti itu karena biasanya pola cincin merah
akan muncul pada batang meski tidak selalu. Maka dari itu, kumbang tanduk itu
perlu ditangani karena hewan Bursaphelenchus
cocophilus ini ternyata hewan perantara penularan nematoda, penyebab penyakit cincin merah.v Tahap Irigasi atau Pengairan
cocophilus ini ternyata hewan perantara penularan nematoda, penyebab penyakit cincin merah.v Tahap Irigasi atau Pengairan
v Tahap Irigasi atau Pengairan
Metode Irigasi
Beberapa sistem irigasi telah digunakan
di perkebunan kelapa sawit,
misalnya system sprinkler, drip (tetes), dan contour
furrow (kontur terbuka) yang
telah diterapkan di Thailand. Di Malaysia,
surface irrigation (irigasi
permukaan) dengan flooding (penggenangan)
atalu blocking drains
untuk menjaga muka air tanah juga telah digunakan.
Percobaan sub irrigation
telah dilakukan pada sebuah percobaan lapangan
di Venezuela, namun tidak
menunjukkan hasil yang memuaskan.